Bagi masyarakat Indonesia, penggunaan uang dalam kehidupan sehari-hari umumnya hanya melibatkan satu mata uang, yaitu Rupiah. Saat membayar transportasi, berbelanja, atau makan di restoran, harga dan pembayaran biasanya menggunakan mata uang yang sama. Kondisi ini membuat penggunaan beberapa mata uang dalam satu negara mungkin terdengar cukup asing bagi sebagian orang.
Hal berbeda dapat ditemukan di sejumlah negara. Wisatawan mungkin melihat harga dalam dua mata uang, membayar dengan mata uang asing, atau menerima kembalian dalam mata uang lokal. Kondisi seperti ini memang dapat terjadi dan tidak selalu berarti kasir salah menghitung. Dalam situasi tertentu, penggunaan beberapa mata uang justru sudah menjadi bagian dari kebiasaan transaksi atau diatur melalui kebijakan tertentu.
Lalu, mengapa satu negara bisa menggunakan lebih dari satu mata uang dalam transaksi sehari-hari? Apakah semua mata uang tersebut memiliki status resmi yang sama? Mari simak penjelasan di bawah ini selengkapnya!
Baca juga: Tips Solo Traveling – Membawa Uang Tunai Asing dengan Aman
Benarkah Ada Negara yang Menggunakan Banyak Mata Uang di Kegiatan Sehari-Hari?
Jawabannya, benar. Namun, penggunaan beberapa mata uang tidak selalu berarti semuanya menjadi mata uang resmi dengan kedudukan yang sama. Ada negara yang memiliki pengaturan khusus dengan negara lain, sementara ada pula yang tetap menggunakan mata uang lokal tetapi masyarakat dan pelaku usaha juga menerima mata uang asing secara luas.
Contohnya dapat ditemukan di Kamboja. Riel Kamboja tetap menjadi mata uang nasional, tetapi Dolar AS juga telah lama digunakan secara luas dalam kegiatan ekonomi. Karena itu, wisatawan dapat menemukan transaksi yang melibatkan kedua mata uang tersebut, terutama di kawasan yang banyak dikunjungi wisatawan.
Kondisi serupa juga memiliki bentuk berbeda di negara lain. Ada yang menggunakan mata uang asing sebagai alat pembayaran yang sah, ada yang menerimanya sebagai kebiasaan dalam transaksi, dan ada pula yang memiliki perjanjian khusus dengan negara tetangga.
Berbagai Negara dengan Lebih dari Satu Mata Uang
Penggunaan lebih dari satu mata uang dapat ditemukan dalam berbagai bentuk di sejumlah negara. Ada yang memiliki perjanjian khusus dengan negara lain, ada yang menggunakan mata uang asing sebagai alat pembayaran yang sah, dan ada pula yang menerima mata uang asing secara luas dalam transaksi sehari-hari. Berikut beberapa contohnya.
- Brunei Darussalam dan Singapura memiliki pengaturan Currency Interchangeability Agreement sejak 1967. Berdasarkan perjanjian ini, Dolar Brunei (BND) dan Dolar Singapura (SGD) memiliki nilai yang setara. Otoritas moneter serta bank berlisensi di kedua negara juga wajib menerima dan menukarkan mata uang masing-masing tanpa biaya. Namun, ada hal penting yang perlu dipahami. Di tingkat transaksi masyarakat, mata uang tersebut lazim diterima, tetapi toko atau pelaku usaha tidak selalu diwajibkan menerimanya.
- Panama menggunakan Balboa (PAB) sebagai satuan mata uang, tetapi Dolar AS (USD) merupakan alat pembayaran utama dan juga berstatus sebagai legal tender di negara tersebut. Nilai Balboa dipatok 1:1 dengan Dolar AS. Uang kertas Balboa tidak diterbitkan, sehingga uang kertas Dolar AS beredar bersama koin Balboa.
- Kamboja menjadi contoh menarik karena Riel Kamboja (KHR) dan Dolar AS banyak ditemui dalam kegiatan ekonomi. Riel merupakan mata uang nasional, sedangkan Dolar AS telah lama beredar luas dan digunakan dalam berbagai transaksi. Bagi wisatawan, kondisi ini dapat membuat pembayaran terasa berbeda dari Indonesia. Satu transaksi bisa saja menggunakan Dolar AS, sementara pecahan kecil atau transaksi tertentu menggunakan Riel.
- Zimbabwe juga memiliki pengalaman dengan sistem multi-mata uang. Saat ini, ZiG sebagai mata uang terstruktur digunakan bersama sejumlah mata uang asing yang ditetapkan sebagai legal tender, termasuk Dolar AS, Euro, Rand Afrika Selatan, Poundsterling, dan Yen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan beberapa mata uang dalam satu negara dapat memiliki bentuk yang berbeda-beda, tergantung pada kebijakan dan kondisi ekonomi masing-masing negara.
Alasan Suatu Negara Memungkinkan Transaksi dengan Beragam Jenis Mata Uang
Tentunya, ada beberapa alasan yang dapat melatarbelakangi kondisi tersebut, di antaranya seperti berikut ini.
1. Menjaga Kepercayaan terhadap Alat Pembayaran

Negara yang pernah mengalami inflasi tinggi atau gejolak nilai mata uang dapat menghadapi tantangan dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap mata uang lokal. Dalam kondisi tertentu, penggunaan mata uang asing yang lebih stabil dapat membantu transaksi tetap berjalan dan memberi pilihan pembayaran bagi masyarakat maupun pelaku usaha.
2. Mempermudah Perdagangan dan Hubungan dengan Negara Tetangga

Negara yang memiliki hubungan perdagangan dan perjalanan yang erat dengan negara tetangga dapat memperoleh manfaat dari penggunaan mata uang yang mudah diterima lintas batas. Pengaturan Brunei Darussalam dan Singapura, misalnya, membantu mengurangi risiko perubahan nilai tukar serta biaya dalam kegiatan perdagangan, pariwisata, dan investasi.
3. Memudahkan Wisatawan

Di kawasan wisata, penerimaan mata uang asing yang populer dapat membuat pembayaran terasa lebih praktis bagi pengunjung. Wisatawan tidak selalu harus segera mencari tempat penukaran uang ketika tiba di suatu negara, meskipun tetap penting untuk memahami mata uang mana yang sebenarnya diterima dan bagaimana kurs yang digunakan.
4. Menyesuaikan Kondisi Ekonomi Setempat

Setiap negara memiliki kondisi ekonomi dan hubungan perdagangan yang berbeda. Karena itu, keputusan untuk menggunakan lebih dari satu mata uang dapat berkaitan dengan sejarah ekonomi, kebijakan moneter, perdagangan internasional, maupun kebutuhan masyarakat setempat.
Tips Bertransaksi di Negara dengan Banyak Mata Uang
Jika Anda berencana bepergian ke negara dengan sistem pembayaran yang melibatkan beberapa mata uang, beberapa hal berikut mungkin dapat membantu Anda.
- Cari tahu mata uang yang benar-benar diterima. Jangan langsung menganggap semua mata uang asing dapat digunakan di setiap toko. Periksa informasi pembayaran atau tanyakan kepada penjual sebelum bertransaksi.
- Perhatikan kurs yang digunakan. Ketika harga dapat dibayar dengan dua mata uang, nilai konversi yang digunakan toko bisa berbeda dari kurs yang Anda lihat di internet. Memeriksanya terlebih dahulu membantu Anda mengetahui jumlah yang perlu dibayar.
- Siapkan pecahan yang praktis. Membawa pecahan kecil dapat memudahkan pembayaran dan mengurangi kemungkinan menerima terlalu banyak uang kembalian dalam mata uang lain.
- Perhatikan kondisi uang tunai. Beberapa tempat mungkin lebih selektif terhadap kondisi fisik uang asing. Karena itu, bawalah lembaran yang bersih dan tidak rusak agar lebih mudah diterima.
- Jangan membawa terlalu banyak mata uang yang sulit digunakan kembali. Jika Anda menerima uang lokal dalam jumlah kecil, gunakan untuk kebutuhan selama perjalanan atau pertimbangkan penukarannya sebelum pulang.
Baca juga: Tukar Uang di Negara Asal atau Tujuan, Lebih Baik Mana?
Siapkan Valuta Asing untuk Perjalanan Bersama PT Cahaya Sentosa Valasindo
Memahami sistem mata uang di negara tujuan dapat membantu Anda menyiapkan pembayaran dengan lebih nyaman. Sebelum berangkat, pastikan Anda mengetahui mata uang yang umum digunakan, pecahan yang dibutuhkan, serta cara pembayaran yang berlaku di destinasi Anda.
Jika membutuhkan mata uang asing untuk perjalanan, PT Cahaya Sentosa Valasindo siap membantu kebutuhan penukaran valas Anda. Sebagai Penyelenggara KUPVA BB Berizin Resmi Bank Indonesia, PT Cahaya Sentosa Valasindo menyediakan layanan penukaran valuta asing dengan kurs yang transparan dan kompetitif serta memperhatikan keaslian dan kondisi fisik uang.
Siapkan kebutuhan valas Anda sebelum keberangkatan agar transaksi selama perjalanan dapat berlangsung lebih praktis dan nyaman. Mari hubungi PT Cahaya Sentosa Valasindo untuk mendapatkan akses penukaran valas yang mudah dengan segera!


